Weaning with love

Posted: 2013/04/23 in Parenting

One of my dreams when raising my kids, especially Sholahuddin Al Alyyubi, is weaning him with love. In the beginning, he turn out 2 years, I became a little nervous. I read success story of my friend when she weaned her daughter at two years sharp. Oh my, peer pressure: p. So, I tried a common way, just put a bitter thing on my breast. Alhamdulillah, it don’t work at all. Ayyub just ate them. So, I read other articles that said, it is oke to wait your kids weaning by him selves. When Ayyubi already 2 years and 4 months, I felt, it was wrong. Because Alquran already mention, kid breast feed only until 2 years. One of my colleague, experience in three kids, advised me. She said, we should help our kids to control his “nafsu” (lust) by weaning him at 2 years. I already have a big motivation to do the weaning but I want it still in proper way and the right time.

Friday (april 19th, 2013), after finishing seminar class, I went home.  I was in the good stamina and mood. “Well, why not start the weaning today,” I though. Bismillah, that day became the first day of Ayyub’s weaning. I always try to hug him whenever he want breastfeed. I really fell his sadness. At this time, he is also doing the toilet training. Oh, my baby boy, He is in the middle of “exam”. Doing two big things in the same time. 

Friday: Ayyubi really wanted breastfeed, but i said, “Ayyubi sudah besar, anak besar ga mimik lagi”. He was crying. I pretended to sleep. Ayyubi went to abi, abi also pretended to sleep, and finally, he went to Minan’s room and slept there until morning.

Saturday: Really hard day. We slept in our friend’s apartment that has 4 months baby boy. He really care about the  little baby, and always asked my friend to breast feed him. In the midnight, Ayyubi really want brestfeed, i just hug him, and he cried. 

 

(tobe continued)

 

Dulu saya sempat rutin untuk menulis kejadian harian yang pantas untuk dikenang. Tapi semangat itu naik dan turun. Saya pernah menulis bagaimana kronologis ketika melahirkan Fatih, namun hal itu tidak saya lakukan setelah kelahiran Ayyubi karena kami sibuk beres-beres apartemen untuk siap-siap cuti satu semester. Akibatnya? Saya sedikit lupa bagaimana kronologis melahirkan Ayyubi. Sedangkan kronologis Alfatih masih tergambar jelas di ingatan saya. Wah..efek menulis ternyata nyata sekali! Saya jadi merasa kehilangan momen-momen berharga yang tergambar jelas. Sungguh ketika membaca ulang tulisan tulisan amatiran saya, saya seperti melangkah lagi di masa itu dan membandingkan dengan masa sekarang. Rasa syukur menjadi semakin tumbuh mekar, dan membuat saya mampu untuk mengevaluasi diri.  Saya juga membayangkan, jika Allah menghendaki, anak-anak bisa membaca tulisan ummynya dan semakin menyadari bahwa kami ummy dan abinya sangat mencintai mereka karena Allah. Kami bukan orang tua yang sempurna tapi kami ingin selalu menjadi yang terbaik untuk mereka. Aduh kok jadi mellow gini ya. Usap-usap ingus dulu :((.

 

Pun sekarang saya merasa hari-hari di Taiwan tersisa semakin sedikit, wallahu’alam. Tapi memang beasiswa cuma sisa untuk satu semester ke depan. Sekarang sedang berusaha mengejar deadline. Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kaki kami. Semakin sedikit kesempatan untuk berada di Taiwan membuat saya merasa banyak hal yang harus saya lakukan untuk membuat hari-hari saya semakin berharga di Taiwan.

Saya ingin, ingin, dan teramat ingin ya Allah menjadi pribadi yang bisa mendapatkan husnul khotimah. Jalan menuju husnul khotimah tersebut tentu tidak mudah. Seorang ustadz pernah menyampaikan dalam wejangannya kepada kami:” saya tidak akan istirahat, tempat istirahat saya nanti ketika di kubur.”

Saya benar-benar belum mampu untuk seperti itu, saya harus belajar untuk bisa seperti itu. Walau kadangkala saya merasa capek dan ingin “beristirahat” dan merasa “kok gue aja nih yang kerja” tapi saya coba tepis jauh jauh. Allah tidak tidur, Allah Maha Tahu, dan Allah Maha Adil..tidak akan tertukar pahala sedikitpun.

Ketika membaca sebuah artikel (http://www.pkspiyungan.org/2013/01/selamat-jalan-istriku-engkau-layak-atas.html) tulisan seorang suami yang ditinggal pergi oleh istrinya untuk selama-lamanya membuat saya tertegun dan menginstrospeksi diri. Ya Allah saya belum ada apa-apanya dengan ummahat itu.

Beliau dikisahkan tidak pernah mau merepotkan suami. Saya? MasyaAllah..bentar bentar minta tolong…motor mogok panggil abi, lampu mati panggil abi, anak ada apa-apa panggil abi. Saya belum bisa menjadi istri yang tidak merepotkan suami.

Terhadap anak-anak, saya juga belum menjadi ibu yang sempurna. Apalagi menjadi seorang muslimah….

Sudah dulu lah nulisnya…jadi sendu gini.

InsyaAllah akan selalu semangat untuk terus memperbaiki diri.

Kalau istilahnya “give deadline for yourself”.

 

Abang Fatih Mewanai

Posted: 2013/01/23 in Parenting

Abi punya blog lama yang jarang diupdate di mystep.blog.com. Disalah satu fitur di blog tersedia kid corner. Beberapa hari yang lalu iseng, kita buka-buka lagi blog abi dan bernostalgia cielaa…eh kesampaian buka fitur kid corner dan abang Fatih suka dan mau mencobanya. Abang pun mencoba fitur mewarnai tersebut. “Wah, akhirnya kepake juga yang ada bikin” komentar abi bahagia anak sulungnya mau mencoba mewarnai dengan komputer.

Awalnya abang masih belum berani coba dan menyuruh kita untuk mewarnainya. Karakter abang memang perfeksionis, ga mau coba kalau belum yakin bisa. Eh..setelah beberapa kali kita dampingi, abang sudah pd untuk mencoba sendiri dan memilih warna sendiri. Awalnya kita heran, abang kok pilihan warnanya detail..baru deh kita sadar ternyata di pojok kanan atas, ada gambar kecil yang sudah diwarnai. Ya Allah ternyata abang mencontoh detail warna dari gambar kecil tersebut. 

Melihat ini membuat saya semakin mantap, bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk mengajari diri mereka sendiri. Ada saat dimana anak-anak menemukan AHA momentnya dan menikmati proses belajarnya tanpa ada tekanan dan paksaan.

Ngomong-ngomong tentang AHA moment, Alhamdulillah kosa kata abang sudah semakin banyak. Ketika masih malas ngomong, abang disuruh mengulang kata yang kita ucapkan, susahnya minta ampun. Sekarang setelah abang punya keinginan untuk  berbicara setiap yang kata yang kita ucapkan ditirukan oleh abang. Tugasnya kami nih sebagai orang tua untuk terus mengulang kata per kata dengan artikulasi yang jelas.

 

 

Merutinkan Menulis

Posted: 2013/01/21 in Cerita

Setelah membaca tulisannya Pak Cahyadi Takariawan yang tentang menulis yang bisa bermanfaat untuk kesehatan membuat saya mengangguk-menganguk tanpa sepakat. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa tapi kehebohan harian yang harus dilakukan kadangkala membuat saya menjadi sedikit tertekan. Setiap keinginan dan target harian yang ingin dicapai karena tidak ditulis dengan rapi dan dievaluasi dengan rutin meninggalkan hutang-hutang harian yang membuat pikiran terus menerus memikirkannya sehingga tidak fokus dengan yang tengah dilakukan. Lagi masak ingat Lab, lagi ngeLab ingat anak, lagi main sama anak ingat pesanan catering, lagi masak catering ingat hafalan quran yang ga beres-beres,lagi hafalan quran ingat pesanan bakso, lagi bikin bakso ingat tidduuuurrrr zzzz. EH lagi tidur ingat cucian piring, cucian baju yang menumpuk dan rumah yang berantakan….jadi pengen makan tart karena stess 😛 LOL. Apalagi saya banyak kepinginnya, pingin kurus biar makin cantik depan suami, pengen jadi wanita yang telaten macam kerjaan jahit, merajut, bikin prakarya, berkebun..tidak tidak ini bukan saya banget (insyaAllah suatu hari lah ya, bukan di taiwan ini!!! Target terpenting LULUS dan PULANG ASAP)

Parah nih…parah nih kalau tidak terjadwal terus saya bisa tidak produktif nih.

Oke mari kita list target harian (prinsip: semua harus serta sedikit-sedikit dan dicicil, tidak ada yang menghabiskan waktu sampai berjam-jam kecuali EKSPERIMEN DAN MENULIS DRAFT!!!)

Sebagai seorang hamba Allah saya menargetkan harian untuk:

– Shalat awal waktu dan diusahakan berjamaah
– Shalat sunnah rawatib (minimal sebelum subuh, sesudah zuhur, sesudah magrib dan sesudah isya)
– Shalat sunnah dhuha minimal dua rakaat
– Shalat sunnah tahajjud minimal dua rakaat dan satu witir
– Membaca Alquran satu juz (8 halaman subuh, 4 halaman di zuhur, 4 halaman di ashar, 2 halaman di magrib, 2 halaman di isya)
– Membaca zikir pagi dan petang
– Menghafal alquran 5 ayat
– Menghafal hadist perkalimat

Untuk target mingguan:
– Hadir dalam taklim (sabtu)
– Mengisi taklim (minggu)
– Membaca fiqh satu sub bab (jumat)
– Membaca Siroh (senin)
– Membaca tafsir alquran (selasa)
– Membaca artikel parenting/islami/kontemporer (rabu)
– Membaca tafsir hadist (kamis)

Sebagai seorang manager rumah tangga, ibu, dan istri
– Cuci piring (max 30 menit)
– Cuci baju (max 30 menit)
– Bersihin rumah (max 30 menit)

Sebagai student
– Kejar data eksperimen sebelum 10 februari
– Kejar menulis draft sebelum 20 februari

Sebagai enterprener :p
– Mencatat setiap transaksi
– Menyiapkan menu catering malam hari
– Membuat bakso tiap malam satu kilo daging
– Mencicil revisi buku wirausaha abi

Menambah skill:
– Setiap hari 5 kata dalam mandarin dan arab
– Setiap hari menerjemahkan living book satu paragraph
– Menulis di blog..apapun itu

Karena begitu banyak yang harus dilakukan makan satu-satunya yang harus dikorbankan adalah waktu tidur (selama ini sih tidur jam 12 bangun jam 5 dan tidak tidur habis subuh. Pertahankan!)

bismillah..semoga bisa konsisten dan melejitkan potensi saya yang masih nol ini.

Dua tahun satu bulan kurang empat hari umurnya. Harusnya udah disapih donk ya. Tapi anaknya masih betah banget untuk menyusu. Makin dibilang “adek udah gede, anak gede ga mimik lagi” eh makin kenceng aja mimiknya.

Awalnya sy sih bertekad ga akan pakai acara kasih pahit pahit karena akan mempengaruhi bonding antara ibu-anak yang telah terbentuk sejak awal menyusui. Tapi kok lama-lama ga sabaran ya..hehehe..akhirnya coba dioles habbatusauda yang pahit itu. Gak ngaruh ternyata!!! Selang beberapa hari coba olesin kopi. Gak ngaruh juga :P. Emang Ayyub ga ngaruh sama yang pahit-pahit. Trus ada teman yang menyarankan untuk mengoleskan sayuran pahit. Belum coba sih. Tapi kok rasanya menentang hati nurani tsaaaaah.

Browsing-browsing lagi tentang effek menyusui lebih dari dua tahun. Belum ada sih penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa menyusui lebih dari dua tahun akan membuat anak tidak mandiri, menjadikan anak mempunyai perilaku seksual menyimpang.

Namun yang paling baik adalah anak menyapih dirinya sendiri. Penelitian yg dilakukan Sally Kneidel in “Nursing Beyond One Year” (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103) menyimpulkan bahwa anak-anak yang menyapih dirinya sendiri memiliki rasa sosial dan kemandirian yang jauh lebih baik dari mereka yang disapih secara paksa. Ferguson et al 1987 juga melakukan penelitian pada anak usia 6-8 th. Bahwa ternyata anak2 tsb disusui oleh ibunya hingga usia > 2th dan mereka memiliki social adjustment (adaptasi sosial) yang sangat baik. 

Begitu tulisan di salah satu hasil browsing.

Yo wes sekarang menerapkan prinsip, terus menerus mesugesti ayyubi kalau mimik itu untuk anak bayi, dan tidak menawari mimik lagi dan tetap memberikan mimik. Tetapi ini dideadline sampai lebaran cinaaaa. Kalau ampe lebaran cina belum ada perubahan berarti, nunggu ampe lebaran monyet :p. eh becanda. Nanti dicarikan solusinya lagi. 

Ingat: mulai hari ini kurangi nenenin buat bobok!!

Alhamdulillahirrabbil’alamin.

Manaaa, manaa komitmenmu untuk menulis lebih sering dan teratur di blog ini. Janjimu palsu maak. Eh ga palsu kok blog, saya cuma lagi sibuk memantapkan kapabilitas saya dalam hal perkulineran. 

Jadi saudara-saudara, saya dan suami sudah hampir setahun mengeluti bisnis bakso. Awalnya usul suami, bisnis tempe dan bakso. Tapi ternyata bikin tempe itu cuaapek banget dan deg-deg an berhasil atau tidak. Kami pun fokus untuk bisnis bakso. Seiring berjalannya waktu, kami sudah menemukan resep yang paling pas. Setiap pelanggan sih, selalu bilang uenaaaak. Alhamdulillah.

Eh…kamu..kamu bukannya di taiwan lagi ambil S3, kok malah jualan bakso. Sabaaaaaaar…ini jualan bakso juga dalam rangka s3 lo. KIta kan boyongan ke Taiwan, hidup di Taiwan dengan biaya hidup 3 kali lipat dari hidup di Indo, dan harga apartemen seumprit sebulan sebanding dengan ngontrak rumah setahun di Indo, maka kami harus putar otak donk biar tetap bisa berkumpul dan melanjutkan perjuangan menyelesaikan S3. Ya…walaupun saya dan suami suka banget ngomong dengan bahasa syahrini…”ngurus anak, cari duit, dakwah, daaaaan S3 itu sesuatu bangeeet ya”. Syukurnya adalah, biasanya kalimat ini muncul pada saat yang berbeda antara saya dan suami. Jadinya masih bisa saling menyemangaaati.

 Daaaaan mulai minggu kemarin, dengan sok pedenya saya meluncurkan Alfath Catering. Kecil-kecilan sih tapi berefek ganda. Sekalian masak untuk duo anak sholeh nan unyu-unyu itu. (btw unyu-unyu artinya apa sih??).. Apalagi sekarang kan ikutan grup homemade healthy baby food. 

Satu hal yang saya syukuri, saya sebenarnya diam-diam menikmati proses memasak. Apa bakat saya di bidang kuliner ya. Apa perlu ambil kursus masak. Ntar deh dipikirin lagi. Tapi saya makin menyadari kalau saya suka effek dari dapat uang dari jerih payah sendiri.Dimaklumilah ya, profesi selalu jadi mahasiswa. Paling kerja dulu cuma guru privat dan itu fga capeeek dan ga terlalu mikir. Tapi kalau masak, saya kok ya ngerasa mengeluarkan semua potensi saya.

Namun, dari kapabilitas yang saya tingkatkan di bidang kuliner, saya juga menyadari, saya melupakan homeschooling anak-anak. Oke, kuliner bisa jadi bagian homeschooling, tapi manaaa manaaa upgrade pengetahuan mu Maaaak. Teman aja udah message udah baca buku cm, dan dah mulai hunting l;iving book dan sudah menerapkan. Saya??? hiks..ambil serbet lap ingus.

Maka saya harus juga meningkatkan kapasitas. Waktu di Taiwan ini priceless. Belum tentu nanti bisa sefleksibel ini di Indo. Maka Mak..manfaatkan waktu mu untuk meningkatkan kapabilitas dan kapasitas.

 

Eh, semakin padat yang dikerjakan juga memicu stress…saya udah menemukan obat stress selain baca Alquran dan shalat khusu’. bobok penyuk sama adek Cubi dan menciumi ubun-ubunnay termasuk obat mujarab. I love u full dedek cubiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. and Love u full juga babang fatih

Termodinamika

Posted: 2012/07/12 in Parenting

Status sebagai mahasiswi (memasuki tahun kesembilan! wawww sungguh menakjubkan, kok saya  bisa tahan ya????) tentu saya tidak lepas dari yang namanya membaca teks book. Terus terang membaca text book sungguh membosankan dan membuat ngantuk. Semenjak menjadi orang tua, saya dan suami memang berniat untuk memberikan pendidikan dengan cara homeschooling. Begitu banyak metode homeschooling yang dijalani para praktisi. Tapi secara umum sih,metode setiap keluarga pasti berbeda-beda. Namun sejauh yang saya tahu ada beberapa metode misal motessori, unschooling, charlotte mason, unit studies, dan lain-lain. Sekarang saya lagi kepincut hatinya untuk belajar tentang metode charlotte mason atau yang sering disingkat dengan cm. Salah satu metode cm adalah mengedepan penggunaan living book daripada sekedar text book dan ensiklopedi yang kering makna. Membaca living book diharapkan anak akan terinspirasi dan terikat secara emosi. Metode cm tidak berhenti sampai membaca saja, namun kemudian harus dinarasikan. Bagi anak yang belum bisa menulis menarasikan dengan cara diceritakan ulang, bagi anak yang sudah bisa menulis dinarasikan dengan menulis.

 

Terus apa hubungannya dengan termodinamika ya? Hehehe…jadi sekarang saya ingin menerapkan prinsip cm terhadap diri saya sendiri. Karena belum menemukan living book tentang termodinamika, saya coba saja meng

ambil beberapa sub judul di text book yang saya gunakan dan mencari tulisan yang menjelaskan dengan lebih naratif tentang sub judul itu. Kemudian akan saya narasikan. Hari ini hari pertama saya memulai belajar lagi tentang termodinamika dengan rasa cm. Kok jadi bergairah gini ya, apa saya bikin aja ya buku termodinamika rasa cm. hahahaha…amin.