dari dakwatuna.com
Sa’idbin Abu Maryam menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Humaid bin Abu Humaid At-Thawil bahwasanya ia mendengar Anas bin Malik r.a. berkata: ““Ada 3 orang yang mendatangi rumah-rumah istri Nabi SAW menanyakan ibadah Nabi SAW. Maka tatkala diberitahu, mereka merasa seakan-akan (ibadahnya) tidak berarti (sangat sedikit). mereka berkata: “Dimana posisi kami dari Nabi SAW, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang.” Salah satu dari mereka berkata: “Saya akan Qiyamullail selama-lamanya.” Dan yang lain berkata: “Aku akan puasa selamanya.” Dan yang lain berkata: “aku akan menghindari wanita, aku tidak akan pernah menikah.” Lalu datanglah Rasulullah seraya bersabda: “kalian yang bicara ini dan itu, demi Alah, sungguh aku yang paling takut dan yang paling takwa kepada Allah. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat, aku tidur dan aku juga menikah. Barang siapa yang benci terhadap sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku.”
(HR. Al-Bukhari).

Ada beberapa faktor yang mendasari urgensinya pembentukan keluarga dalam Islam sebagaimana berikut:

1. Perintah Allah swt.

Membentuk dan membangun mahligai keluarga merupakan perintah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. dalam beberapa firman-Nya. Agar teralisasi kesinambungan hidup dalam kehidupan dan agar manusia berjalan selaras dengan fitrahnya. Kata “keluarga” banyak kita temukan dalam Al-Quran seperti yang terdapat dalam beberapa ayat berikut ini;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara’: 214)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

2. Membangun Mas’uliah Dalam Diri Seorang Muslim.

Sebelum seorang berkeluarga, seluruh aktivitasnya hidupnya hanya fokus kepada perbaikan dirinya. Mas’uliah (tanggung jawab) terbesar terpusat pada ucapan, perbuatan, dan tindakan yang terkait dengan dirinya sendiri. Dan setelah membangun mahligai keluarga, ia tidak hanya bertanggungjawab terhadap dirinya saja. Akan tetapi ia juga harus bertanggungjawab terhadap keluarganya. Bagaimana mendidik dan memperbaiki istrinya agar menjadi wanita yang shalehah. Wanita yang memahami dan melaksanakan hak serta kewajiban rumah tangganya. Bagaimana mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi rabbani nan qurani. Coba kita perhatikan beberapa hadits berikut ini:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya, apakah ia menjaga kepemimpinannya atau melalaikannya, sehingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya.” (Hadits gharib dalam Hilayatul Auliya, 9/235, diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Isyratun Nisaa’, hadits no 292 dan Ibnu Hibban dari Anas dalam Shahihul Jami’, no.1775; As-Silsilah Ash-Shahihah no.1636).

Dari Aisyah r.a., berkata: “Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada kelurganya dan aku paling baik bagi keluargaku.” (Imam Al-Baihaqi)

Dari Abu Hurairah r.a., berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (Imam At-Tirmidzi, dan ia berkata: “Hadits hasan shahih.”

3. Langkah Penting Membangun Masyarakat Muslim

Keluarga muslim merupakan bata atau institusi terkecil dari masyarakat muslim. Seorang muslim yang membangun dan membentuk keluarga, berarti ia telah mengawali langkah penting untuk berpartisipasi membangun masyarakat muslim. Berkeluarga merupakan usaha untuk menjaga kesinambungan kehidupan masyarakat dan sekaligus memperbanyak anggota baru masyarakat.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Dari Anas r.a. berkata: “Rasulullah saw. memerintahkan kami dengan “ba-ah” (mencari persiapan nikah) dan melarang membunjang dengan larangan yang sesungguhnya seraya bersabda: “Nikaihi wanita yang banyak anak dan yang banyak kasih sayang. Karena aku akan berlomba dengan jumlah kamu terhadap para nabi pada hari kiamat.” (Imam Ahmad, dishahihkan Ibnu Hibban. Memiliki “syahid” pada riwayat Abu Dawud, An-Nasaai dan Ibnu Hibban dari hadits Ma’qil bin Yasaar)

4. Mewujudkan Keseimbangan Hidup

Orang yang membujang masih belum menyempurnakan sisi lain keimanannya. Ia hanya memiliki setengah keimanan. Bila ia terus membujang, maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya, kegersangan jiwa, dan keliaran hati. Untuk menciptakan keseimbangan dalam hidupnya, Islam memberikan terapi dengan melaksanakan salah satu sunnah Rasul, yaitu membangun keluarga yang sesuai dengan rambu-rambu ilahi. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Anas bin Malik r.a. berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang menikah maka ia telah menyempurnakan setengah agama. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam setengahnya.” (Imam Al-Baihaqi)

Menikah juga bisa menjaga keseimbangan emosi, ketenangan pikiran, dan kenyamanan hati. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Abdullah berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada kami: “Wahai para pemuda, barangsiapa dari kalian yang memiliki kemampuan, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya menikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara farji (kemaluan). Barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu merupakan benteng baginya. (Imam Muslim)

Semoga kita dimudahkan Allah untuk melaksanakan sunnah ini. Amin

Emak “Lebay”

Posted: 2010/11/28 in Parenting

Pagi senin dengan sisa-sisa kelelahan sepulang dari luar kota saya terburu-buru masuk kelas yang hampir telat. Namun saya sangat bersyukur pagi senin ada kelas sehingga memaksa saya untuk segera memulai aktivitas minggu ini. Dua jam kelar, saya masuk office lab dan membaca email dan membuka fb yang tidak dibuka sejak dua hari. Email yang hampir semua berasal dari milis, saya baca secara cepat diteruskan mengklik “delete”. Baru ketika ada email yang topiknya menarik, saya baca dengan lebih detail. Ketika membuka facebook, sepersekian detik saya sempat bengong. Saya sedikit gemetar membuka tautannya karena masih belum pasti apa benar itu. Ya Allah saya langsung kaget dan berubah jadi bahagia karena mengetahui bahwa itu adalah foto abang 15 bulan. Begitu beda dengan foto 14 bulan. Bayi mungil yang ketika dulu sebelum berpisah belum bisa jalan, sekarang kelihatan dewasa dengan baju koko dan sandal jepit. Mungkin bagi orang lain apa yang saya rasa dan pikirkan sangat berlebihan. Tapi sejauh yang saya pahami, banyak ibu-ibu yang menjadi “lebay” ketika punya anak dan saya termasuk dalam ketegori ini hahaha. Perasaan ini pernah juga saya alami, ketika sahabat saya sengaja datang ke rumah untuk mengunjungi keluarga saya di kampung dan mengabadikan aktivitas abang selama kunjungan sahabat saya ini. Sahabat saya susah-susah mengupload foto begitu banyak foto dengan kapasitas internet di Indonesia (terimakasih nana :D ). Saya gemetar-bahagia-berurai air mata ketika melihat foto abang yang tidak saya lihat lebih dari 3 bulan saat itu.

Senam hamil

Posted: 2010/11/14 in Parenting

http://www.steadyhealth.com

Latihan buat melahirkan baru banyak jalan aja. Sharing sama kakak yang melahirkan sangat lancar, kontraksi yang sakit banget jam 2 pagi, gak bisa jalan lagi jam 3 pagi, dan melahirkan jam 4. Subhanallah, lancar banget kayaknya. Jadinya minta tips: katanya lakukan senam hamil seperti di link di atas, dan senam kegel.
Ayo demi melahirkan yang lancar. Semangaaaaaaat..Bismillah.

Cemburunya Abang

Posted: 2010/11/13 in Parenting

Hal yang sering dikhawatirkan orang tua ketika anak kedua akan lahir adalah bagaimana menyikapi rasa “cemburu” pada anak pertama. Karena tidak berada dekat dengan abang, saya memang terus mengumpulkan info bagaimana abang fatih dalam berinteraksi sehari-hari. Sering saya tanyakan kepada jiddahnya, fatih bagaimana bersikap dengan teman-temannya, bagaimana fatih dengan anak yang lebih kecil usianya, bagaimana fatih berbagi mainan, dan bagaimana perasaan fatih ketika bertemu dengan teman-teman yang usianya tidak terlalu bertaut jauh. Hal ekstrim yang saya tanyakan langsung adalah apakah abang suka mukul teman-temannya. Alhamdulillah dari laporan jiddah, abang tidak pernah memukul teman-temannya. Malahan abang senang sekali kalo teman-temannya sudah main ke rumah ato senang sekali ketika beramai-ramai konvoi sepeda sore dengan teman-temannya. Ketika bermain bersama pun abang mau berbagi mainannya, tidak pelit, dan mau berbagi. Namun ternyata ada hal yang harus menjadi catatan penting bagi saya dan suami. Abang fatih menganggap semua orang dewasa di sekitarnya adalah miliknya seorang. Pernah ketika di Bukittinggi, ama cerita, ayahnya Nouval (sepupu saya yang umurnya cuma selisih 4 bulan dengan abang fatih) sedang memangku duduk bersama Nouval. Abang dengan “semena-mena” mendorong Nouval untuk menjauh dari ayahnya dan fatih minta gendong kepada ayahnya nouval. Pun pernah juga, Fatih tidak suka bila kakeknya atau ayahnya Nayla (sepupu fatih yang lebih muda 7 bulan) menggendong nayla. Maunya Kakek, ayah Nayla, atau Neneknya cuma menggendong fatih, cuma milik fatih seorang. Adik ipar saya pun pernah bercerita, bahwa dia memeluk jiddah, dan bilang kepada abang;” ini umminya ammah”. Fatih langsung tidak suka dan “mengambil” kembali jiddahnya. Walau sepertinya hal ini sangat wajar terjadi pada anak seusia abang, namun hal ini membuat saya dan suami untuk mempersiapkan diri bagaimana bersikap ketika nanti berkumpul bersama fatih kembali dan ditambah dengan (InsyaAllah) adeknya. Hal yang telah kami sepakati adalah, untuk perhatian secara sentuhan fisik dan komunikasi akan “lebih” diberikan kepada abang, Hal ini untuk memberikan zona aman kepada abang sehingga tidak menganggap kehadiran adek baru adalah ancaman bagi limpahan kasih sayang dan perhatian kepadanya. Kami pun sepakat tidak memaksakan abang untuk harus menjadi “abang” baik secara lisan maupun perlakuan. Jangan sampai keluar kalimat ” abang jangan cengeng donk, kan sudah punya adek sekarang” atau ” abang harus bisa donk memberikan contoh kepada adek” atau kalimat-kalimat sejenis yang seakan memaksakan posisi dia harus menjadi seorang yang lebih tua. Padahal bisa jadi kondisi psikologinya belum siap menjadi seorang abang. Biarkan proses secara alami membentuk dia menjadi seorang abang. Toh pada saatnya nanti, saya percaya, abang akan bisa memposisikan diri sebagai anak yang lebih tua.

Hal yang paling berat adalah konsisten dengan pola pengasuhan dan sabar menghadapi situasi. Heboh pastinya punya dua anak, namun saya sangat bahagia dengan apa yang diberikan Allah.

Saking bahagianya punya anak dan calon bayi, yang diingat terus adalah ulang bulannya abang, dan due time untuk si calon bayi lahir, eeeee….giliran hari ini 13 November si Abi milad, saya benar-benar lupa. Ingat pun setelah di ym sama adek ipar. Maafin ya my lovely husband. Walau tak ingat hari ulang tahun daeng tahun ini dan tahun lalu (keterlaluan sekali lupa milad suami 2 tahun berturut-turut) namun InsyaAllah rasa cinta (cielee…) akan selalu ada. Kan romantisnya udah tiap hari yaaaa…ga harus ada hari khusus kan ya? (membela diri).

Kosakata Abang sampai 15 bulan

Posted: 2010/11/10 in Cerita

Barusan nelpon Jiddah, mencek perbendaharaan kosakata Abang. Kalo soal motorik kasar, Abang dah bisa lari-lari (sampai susah dikejar), manjat-manjat, buka pintu, buka lemari, naikin pembatas sepeda dll. Motorik halus, Abang dah bisa coret-coret buku (udah penuh satu buku sama coretan abang) dan dinding rumah Lampung penuh coretan spidol merah. Nah, kalo untuk kosakata:

1. minum susu: cucu
2. minum: num
3. makan: mamam
4. jiddah: dadah
5. sidi: didi
6. mamah: mama
7. kodok: dok
8. cicak : cak
9. gendong: dong
10. minta: tak

Belum terlalu banyak, namun Alhamdulillah ada perkembangan. :)

Today’s Mandarin

Posted: 2010/11/09 in mandarin

Tentang bersih-bersih:

Mandi : 洗澡 : Xǐ zǎo
Mencuci piring : 洗碗 : Xǐ wǎn
Mencuci baju : 洗衣服 : Xǐ yī fú
Mencuci tangan : 洗手 : Xǐ shǒu
Mencuci rambut/keramas : 洗頭 : Xǐ tóu
Membersihkan wajah : 洗脸 : Xǐ liǎn
Menggosok gigi : 刷牙 : Shuā yá

Selain mengosok gigi, hampir semua menggunakan karakter 洗 (Xǐ). Bahasa mandarin memang agak mirip bahasa Indonesia dalam membuat frasa yang terdiri dari dua atau lebih kata.

12-15 bulan Abang

Posted: 2010/11/09 in Cerita

Sudah hampir 5 bulan berpisah dengan Abang. Kangennya tiap saat. Namun harus bersabar menunggu akhir bulan Januari (insyaAllah) untuk bertemu dengan Abang. Semoga semua dilimpahkan kesehatan dan kesempatan ya Abang sayang. Amiin.

Pertama datang ke Indonesia, Abang berada di Lampung dulu selama 3 minggu. Di Lampung Abang kumpul sama abi (cuma beberapa hari dan harus bolak balik ke Jakarta karena ada munas), sama Sidi, Jiddah, Mamah, Ammah, dan Minan. Formasi komplit. Sedang kala itu, saya sendirian di taiwan. Waaa..sedih. Di sekeliling rumah di Lampung banyak sekali anak-anak kecil, sehingga tidak heran, dalam waktu singkat Abang sudah punya banyak teman (baca fans-narsis hihi). Pernah diceritakan oleh minan, seorang anak kecil, usia TK yang tidak dikenal oleh minan ketika bertemu dengan Abang, langsung komentar, “waa…ini anak bayi yang di telinganya ada tulisan Allah ya?”. Minan saat itu kaget karena kok bisa anak yang tidak dikenal ini tahu tentang Fatih. Sedangkan minan sangat hafal dengan anak-anak kecil sekitar rumah. Anak ini pasti tinggal agak jauh dari rumah kita. Cerita minan membuktikan kalo Abang Fatih banyak fans.. hahaha…emang narsis numpang eksis.

Belum berapa lama di Lampung, orang tua saya yang berada di Bukittinggi menelpon ke Taiwan kalau mereka sore nanti mau berangkat ke Lampung untuk menjemput Fatih. Mendadak sekali, dan memang keluarga saya emang suka dengan hal-hal yang mendadak. Mereka sudah sangat kangen sama Fatih. Tapi anehnya mereka tidak mau menelpon langsung ke Lampung kalau akan berangkat ke Lampung. Mereka mungkin sudah menyadari akan dilarang memboyong Fatih ke Bukittinggi. Sangat dimaklumi sebenarnya kondisi ini. Abang Fatih adalah cucu pertama dari kedua belah keluarga. Jadi masih jadi rebutan. Takut keluarga di Lampung kaget, saya pun menelpon ke Lampung dan melaporkan keberangkatan keluarga Bukittinggi ke Lampung. Respon keluarga Lampung sangat mudah ditebak. Mereka mengatakan, tidak apa-apa datang, kan silaturahmi, namun Fatih ga boleh dibawa ke Bukittinggi. Hahaha…fans sejati Abang sedang memperebutkan si “artis”.

Nego punya nego, akhirnya Fatih bisa diboyong ke Bukittinggi. Ammah dan Minan karena memang sedang libur, ikut juga ke Bukittinggi sekalian jalan-jalan dan tinggal di Bukittinggi kurang lebih satu bulan. Abang Fatih lumayan lama di Bukittinggi, 3 bulan. Selama tiga bulan itu hal yang tidak saya sangka-sangka terjadi. Amak (nenek saya) yang sudah berumur kira-kira 60 an yang saya sangka tidak kuat mengasuh Fatih ternyata mampu mengasuh Fatih. Ama (mama saya) dan amak (nenek saya) berkolaborasi mengasuh Fatih. Ketika ama tidak ada dirumah karena mengajar, fatih di rumah bersama Amak, nenek buyutnya. Memang ada Apa (papa saya) dan ayat (adek saya), namun yang namanya laki-laki katanya sih, tidak terlalu telaten mengasuh anak kecil…hehehe…kayaknya bener sih :D . Nenek buyut dan cicit ternyata mempunyai hubungan yang sangat mesra. Padahal pada saat yang bersamaan ada banyak anak bayi lain di sekitar Amak (nouval anaknya tante nes, anaknya tante ren, dan nayla anaknya kakak saya). Berdasarkan ceritanya Amak, hubungan mesra diantara mereka (nenek buyut dan cicit) terjalin karena Abang orangnya pandai ngambil hati orang sehingga si Amak makin sayang kepada si Abang. Abang Fatih dari lahir memang suka dengan suasana ramai sehingga terbawa sampai sekarang. Ketika sedang tidur, ada orang ngomong kencang-kencang di sekitarnya, tidurnya tetap saja nyenyak. Sepertinya ini turunan dari umminya hahaha. Jadi kalo bertemu dengan orang, mata Fatih akan berbinar-binar dan minta dimanja-manja dan digendong dan sebaliknya ketika ada yang pergi dia akan sangat sedih dan menangis. Hati siapa coba yang tidak luluh, melihat kepergian kita disedihi, dan kepulangan kita disambut dengan sangat gembira. Tapi ternyata, abang melakukan ini sama terhadap semua orang. Pernah ada tamu datang ke rumah, yang abang benar-benar tidak kenal sebelumnya. Abang bahagia sekali ada tamu datang kerumah, pasang gaya ingin diperhatikan dan dimanja. Eh….pas tamu pulang, abang menangis kenceng karena sedih ditinggal. Pernah juga Ama cerita kalo biasanya anak kecillah yang kita goda supaya tertawa namun Fatih malah melakukan hal sebaliknya, dialah yang menggoda orang lain supaya tertawa. Pernah waktu itu keluarga sedang duduk-duduk di ruang tengah, tapi lagi sibuk dengan urusan masing-masing. Fatih ternyata punya cara untuk membuat orang menarik perhatian orang. Fatih mengoyang-goyangkan badannya sambil tertawa yang memang terdengar dibuat-buat. Tujuan Fatih cuma satu, membuat orang di sekitarnya tertawa. Kita semua pun tertawa melihat tingkah Fatih, begitu lapor Ama. Oh iya, Amak pernah juga mengatakan kalo Fatih kesal dan mukul kalo dilarang mengerjakan sesuatu yang dia suka. Tapi anehnya ketika sudah memukul Amak/Ama, Fatih berjalan, dan buru-buru balik arah dan menyalami tangan Amak/Ama. Amak atau Ama yang awalnya tadi mau komentar langsung speechless melihat Fatih menyalami dan mencium tangan mereka. Padahal kata Ama, kita tidak pernah mengajari Fatih cara salam. Saya dan suami menduga Fatih mendapatkan kepandaian ini karena melihat Om-nya (adek saya) yang punya kebiasaan setiap mau berangkat sekolah menyalami dan mencium tangan Ama/Amak/Apa.

Fatih mulai bisa berjalan dengan lancar ketika berada di Bukittinggi dan di usia kira-kira 1 tahun 2 minggu. Awal-awal pandai berjalan, Fatih selalu membawa bantal setiap berjalan. Ketika mau jatuh atau capek berjalan, bantalnya ditaruh dan menjatuhkan diri ke bantal. Idenya Fatih bagus juga untuk mengurangi rasa sakit ketika berjalan. Perkembangan motoriknya langsung tumbuh pesat, lapor Ama. Tidak berapa lama dari lancar berjalan, Fatih sudah bisa “berlari” (jalan dengan sangat kencang), sehingga siapapun yang mengejar Fatih harus ikut berlari juga supaya Fatih tidak lepas kendali. Tangannya sangat kuat untuk membuka laci-laci lemari, membuka pintu kulkas, membuka pintu rumah, dan mengobrak-abrik barang. Fatih tidak bisa diam, selalu beraktivitas. Aktivitasnya cuma berakhir ketika matanya tertutup alias tidur. Dan semenjak pintar jalan, dia jarang sekali duduk kata Ama. Mungkin ini juga penyebab, berat badannya tidak terlalu banyak naik (9 kg di usia 13 bulan), padahal makan dan minum susunya banyak.

Di daerah lain, tepatnya Lampung, selalu heboh setiap saya melaporkan perkembangan Fatih. Keluarga Lampung bertekad ingin menjemput Fatih dan membawa kembali ke Lampung. Ternyata keluarga Lampung pun diam-diam berangkat ke Bukittinggi untuk menjemput Fatih. Keluarga Bukittinggi, saya kabari, dan merespon Fatih tidak boleh dibawa ke Lampung. Amak, nenek buyutnya Fatih pun “ngancam” akan “minggat” ke Bogor kalau sampai Fatih dibawa ke Lampung. Saya rasanya mau tertawa mendengar “ancaman” Amak. Tapi cukup tertawa di hati saja, kalo beneran tertawa, saya kan jadi cucu tidak sopan. “Ancaman” amak tinggal “ancaman” saja, toh akhirnya Fatih bisa dibawa juga ke Lampung setelah kurang lebih tiga bulan di Bukittinggi. Sekarang Fatih sudah hampir satu bulan di Lampung. Fatih dibeliin Jiddah sepeda, dan setiap sore dia ikut konvoi sepeda dengan anak-anak sekitar rumah. Lapor keluarga di Lampung, berat badannya Fatih sudah naik jadi 10 kg lebih.